INTANANEWS – Angka percobaan bunuh diri pada remaja di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ternyata meningkat.
Survei Kementerian Kesehatan bersama World Health Organization, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional menyebutkan, jumlah remaja yang mencoba bunuh diri meningkat hingga 2,7 kali lipat.
Hal itu diungkapkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta pada Senin (9/3/2026).
Dia selanjutnya menjelaskan, survei tersebut mengukur dua hal yakni anak-anak yang berpikir mau bunuh diri dan anak-anak yang sudah mencoba untuk bunuh diri.
“Dan yang surprising ke kita adalah angkanya naik tinggi,” katanya.
Ia menyatakan, anak-anak yang berpikir untuk bunuh diri itu naik dari 5,4 persen ke 8,5 persen dan menjadi naik 1,6 kali. Sedangkan, yang mencoba naiknya lebih tinggi dari 3,9 persen sampai 10,7 persen atau sekitar naik 2,7 kali lipat.
Dia menyebutan, pemerintah juga mencatat kasus bunuh diri pada anak melalui laporan lembaga perlindungan anak dan layanan bantuan kesehatan mental.
“Data dari KPAI dan data Healing 119 itu sama KPAI itu Komite Perlindungan Anak Indonesia ya. Yang menunjukkan data dia periode 2023-2024 ada 115 anak yang bunuh diri mengakhiri hidupnya ya. Mayoritas usia tadi 11 sampai 17,” ia mengungkapkan.
Lantas apa penyebab utama anak dan remaja mengalami dorongan bunuh diri?
Menteri Kesehatan mengatakan, penyebabnya bukan hanya karena kondisi psikologis individu tetapi juga berasal dari faktor lingkungan terdekat mereka.
Penyebab lainnya berasal dari lingkungan sosial dan pendidikan, terutama perundungan serta tekanan akademik di sekolah. Terakhir faktor psikologis dari anak sendiri justru.
Terkait hal itu, dia menambahkan, pencegahan harus dilakukan sejak dini dengan memperbaiki pola asuh keluarga dan lingkungan sekolah. Dalam konteks ini maka peran orang tua dan guru sangat penting karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan di sekolah.(nor)












