INTANANEWS.ID – Pagi ini Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 1.200 guru besar, dekan, dan rektor dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia di Istana Kepresidenan, Jakarta. Pertemuan berlangsung tertutup.
Apa maksudnya?
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan, alasan Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 1.200 guru besar, dekan, dan rektor tersebut.
Katanya, hal itu merupakan agenda Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintah untuk berdiskusi sekaligus menyampaikan pandangan-pandangannya.
“Termasuk juga update-update terhadap kondisi negara kita maupun kondisi geopolitik, dan rencana-rencana besar yang harus kita kerjakan ke depan,” kata Prasetyo kepada wartawan pada Kamis (15/1/2026).
Namun sejumlah orang menolak untuk memenuhi undangan tersebut.
Sebut saja beberapa guru besar Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta yang menolak memenuhi undangan Presiden Prabowo Subianto untuk berdialog tentang peran perguruan tinggi mendukung Asta Cita.
Guru Besar Ilmu Komunikasi UII, Masduki adalah salah satu yang menolak datang.
Dia menyoroti materi undangan yang menekankan penguatan peran perguruan tinggi untuk mendukung pencapaian Asta Cita atau misi pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Forum itu hanya seremonial, formalitas, dan menggunakan pendekatan top down atau presiden dominan,” kata Masduki pada Rabu (14/1/2026) seperti dikutip dari tempo.co.
Dia membayangkan peserta hanya akan mendengarkan pidato Prabowo yang kental dengan pencitraan. Dampaknya, guru besar tidak punya kesempatan menyampaikan kritik secara terbuka terhadap pemerintah.
Melalui forum itu, Masduki pesimistis bisa memberikan masukan kepada Prabowo.
Kabarnya sejumlah tema bakal dibahas dalam pertemuan itu di antaranya bagaimana mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter di Indonesia.
Lalu soal peningkatan kualitas perguruan tinggi-perguruan tinggi dalam negeri di samping bagaimana universitas-universitas dapat maju dan berkualitas dengan tidak memberatkan dari sisi pembiayaan bagi masyarakat atau bagi mahasiswa.(nor)












