INTANANEWS.ID – Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Soeharto masih membuat PDI Perjuangan tidak habis pikir. Soeharto dinilai tidak layak mendapat gelar tersebut.
Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira menyebut, pemerintah tuli dan mengabaikan gelombang penolakan gelar Pahlawan Nasional terhadap Soeharto.
“Soeharto tidak layak dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah lantaran rekam jejaknya. Pemerintah tidak mendengarkan kritik dan penolakan dari kelompok masyarakat,” katanya dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (11/11/2025).
Dia selanjutnya mengatakan, pemerintah seharusnya melibatkan partisipasi masyarakat sipil, akademisi, hingga sejarawan dalam proses seleksi gelar pahlawan nasional. Tujuannya agar pemberian gelar pahlawan nasional kepada tokoh tertentu itu mempunyai legitimasi sosial yang kuat.
“Setiap nama yang diangkat harus melalui verifikasi dokumenter, telaah akademik, serta uji publik agar penghargaan ini benar-benar mencerminkan kehendak kolektif bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto hanya bersifat keputusan elitis-simbolik. “Jangan sampai pemberian gelar pahlawan nasional hanya demi kepentingan politik atau kelompok tertentu karena akan menciderai rasa keadilan bagi rakyat,” ia menambahkan.
Sebelumnya, Presiden ke-2 Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Senin (10/11/2025) bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional.
Presiden Prabowo Subianto menyerahkan langsung gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto yang diterima oleh putri sulungnya Siti Hardijanti Rukmana atau akrab disapa Mbak Tutut di Istana Negara, Jakarta pada Senin (10/11/2025).
Dalam kesempatan itu Mbak Tutut didampingi sang adik yakni Bambang Trihatmodjo selaku ahli waris.
Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Soeharto menerima gelar sebagai pahlawan di bidang Perjuangan Bersenjata dan Politik karena jasa dan peran menonjolnya sejak masa kemerdekaan. Selain itu, Jenderal Besar Soeharto tercatat memimpin pelucutan senjata pasukan Jepang di Kota Baru pada tahun 1945.
Sembilan tokoh lainnya selain Soeharto yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan 2025 adalah
1. Almarhum KH Abdurrahman Wahid (Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam).
2. Almarhumah Marsinah (Bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan).
3. Almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Bidang Perjuangan Hukum dan Politik).
4. Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam).
5. Almarhum Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Bidang Perjuangan Bersenjata).
6. Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin (Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi).
7. Almarhum Syaikhona Muhammad Kholil (Bidang Perjuangan Pendidikan Islam).
8. Almarhum Tuan Rondahaim Saragih (Bidang Perjuangan Bersenjata).
9. Almarhum Zainal Abidin Syah (Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi).(nor)












