INTANANEWS – Hujan itu tidak mau kompromi. Sejak jam 9 pagi. Deras sekali.
Sabtu kemarin, langit di Amurang Timur seperti tumpah. Akibatnya sudah bisa ditebak, tanah tidak kuat lagi menahan beban air. Labil. Maka, pukul 16.20 WITA, tebing itu menyerah. Longsor.
Lokasinya di Desa Maliku. Material tanah dan batu menutup jalan. Bukan sembarang jalan. Ini urat nadi. Penghubung Desa Maliku, Maliku Satu, hingga Kotamenara.
Kalau jalan ini mati, akses warga ikut berhenti.
Tapi ada yang lebih cepat dari longsoran itu, koordinasi.
Begitu laporan masuk, Sertu Stefendy Tutu tidak menunggu besok. Babinsa Koramil 1302-14/Amurang ini langsung meluncur.
Dia tidak datang untuk sekadar memotret atau membuat laporan di atas meja.
Dia datang untuk berkeringat.
Bersama aparat desa dan warga, Sertu Stefendy langsung “tempur”.
Senjatanya bukan bedil, tapi sekop dan cangkul. Mereka bahu-membahu.
Inilah kekuatan kita yang sebenarnya: gotong royong. Sesuatu yang mungkin mulai langka, tapi masih sangat sakti di Maliku.
Tanah merah yang licin itu disingkirkan. Batu-batu dipindahkan.
Pukul 18.15 WITA, hanya dalam waktu dua jam, jalan itu kembali bernapas. Kendaraan sudah bisa lewat lagi. Situasi kembali kendali.
Memang, tidak ada korban jiwa. Kerugian materi pun nihil. Tapi ada satu hal yang mahal harganya, rasa aman.
Warga tahu, saat alam sedang tidak bersahabat, mereka tidak sendirian. Ada Babinsa dan tetangga yang siap bergerak cepat.
Hujan mungkin masih akan turun lagi. Tanah mungkin masih bisa bergerak. Tapi semangat warga Maliku sudah lebih dulu “mengeras” sebelum longsor sempat menutup jalan lebih lama. Sederhana. Tapi nyata. (nes)












