Menunggu Perayaan Imlek di Kampung Cina Manado, dari Arsitektur Tradisional hingga Kuliner Lezat Dibalut Cerita Bersejarah

Suasana perayaan Imlek di kawasan Kampung Cina Manado beberapa waktu lalu.(Dok/genpi.co)

INTANANEWS – Kampung Cina ternyata tidak hanya ada di kawasan Pecinan Glodok Jakarta Barat lho! Di Sulawesi Utara juga terdapat Kampung Cina

Kampung Cina di Sulawesi Utara yang berada di pusat Kota Manado persisnya di Jalan DI Panjaitan, Calaca, Kecamatan Wenang telah menjadi salah satu destinasi wisata yang menyajikan keindahan

Saat perayaan Imlek suasana di Kampung Cina semakin semarak lho. Lampion dipasang di hampir setiap sudut kawasan pecinan yang satu ini.

Asal tahu saja Kampung Cina Manado telah menjadi salah satu destinasi wisata yang menyajikan keindahan arsitektur tradisional, kuliner lezat, dan kisah-kisah bersejarah.

Ternyata sejak dulu, Kampung Cina Manado telah menjadi pusat kegiatan komunitas Tionghoa yang memiliki peran penting dalam perkembangan kota ini.

Bangunan-bangunan khas Tionghoa dengan warna-warna cerah dan hiasan-hiasan tradisional memberikan nuansa klasik dan memikat kepada pengunjung.

Salah satu daya tarik utama di Kampung Cina adalah kelenteng Tua Pek Kong. Ini adalah tempat ibadah yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa.

Pengunjung dapat menikmati keindahan arsitektur kelenteng yang megah dan mengetahui lebih dalam tentang ritual-ritual keagamaan yang dilaksanakan di sana.

Tak hanya itu, pasar tradisional di Kampung Cina menawarkan pengalaman berbelanja yang unik dengan aneka barang antik, kerajinan tangan, dan bahan makanan khas Tionghoa.

Pengunjung dapat mencicipi berbagai hidangan lezat seperti bakpao, bakmie, dan kue-kue tradisional lainnya yang disajikan dengan cita rasa otentik.

Saat perayaan Imlek, Kampung Cina Manado kian semarak dengan berbagai acara dan festival budaya yang menampilkan seni tradisional, tarian, dan musik khas Tionghoa. Belum lagi ada Barongsai.

Kampung Cina Manado tidak hanya menjadi tempat bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga merupakan warisan berharga yang melibatkan semua warga kota dalam merayakan keberagaman dan kekayaan budaya yang dimiliki Manado.

Berawal dari Kawasan Rawa-rawa

Menurut Budayawan Tionghoa, Sofyan Jimmy Yosadi seperti dikutip dari MNC Portal Indonesia, kawasan Kampung Cina ini sejak ratusan tahun sudah ada di daerah Kota Manado atau dulunya disebut Wenang.

Ia menyebutkan, awalnya kawasan ini masih berupa rawa-rawa, dibangun di belakang Benteng Fort Amsterdam yang didirikan oleh bangsa Portugis dan Spanyol kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang namanya diubah menjadi benteng Fort Nieuw Amsterdam (Amsterdam Baru).

“Kemudian di belakang benteng oleh pemerintah Hindia Belanda dibangun pemukiman-pemukiman yang berdasarkan etnis. Ada China, Arab, termasuk Minahasa, gunanya untuk mudah mengontrol sehingga pemerintah Hindia Belanda di mana-mana sejak Batavia sampai di beberapa daerah di nusantara adalah untuk mengontrol jadi dikumpulkan,” katanya.

Ia menambahkan, di belakang Fort Nieuw Amsterdam lahirlah apa yang disebut dengan pemukiman khusus warga Tionghoa yang namanya Kampung Cina. Di sebelahnya ada kampung Arab ada juga disebut dengan Kampung Tomohon dan ada bantik dan sebagainya.

Sejak ratusan tahun itu kemudian ada kawasan yang rmerupakan kumpulan orang-orang Tionghoa dan dari sinilah kemudian dibangun Klenteng pertama di tanah Minahasa, Sulawesi Utara yang namanya adalah Klenteng Ban Hin Kiong.

Klenteng Ban Hin Kiong

Menurut catatan sejarah, artefak yang ada di dalam dokumen itu Klenteng ini dibangun di tahun 1700-an tapi kemudian mengalami beberapa renovasi pembaharuan kemudian renovasi yang paling besar-besaran itu ada pada tahun 1918.

“Di sini ada pemimpin-pemimpin bangsa Tionghoa yang namanya kapiten Cina atau leutenant Cina yang juga merupakan pemimpin pemimpin yang oleh Belanda dipilih untuk mengontrol orang-orang ini termasuk pajak-pajak dan akhirnya dibuatkan juga satu dewan yang namanya konghuan itu untuk mengelola klenteng Ban Hin Kiong dalam tata cara upacara,” Sofyan Jimmy Yosadi menambahkan.

Singkat kata dari sinilah kemudian mulai bermukim banyak pendatang pendatang yang dari Tiongkok datang berbondong-bondong menetap di sini kemudian mulai menyebar dan sampailah pada saat ini kawasan ini masih disebut dengan Kampung Cina karena baik dari struktur bangunan maupun juga kemudian dibangun kelenteng-kelenteng berikutnya.

Di Kampung Cina Manado terdapat kurang lebih ada 5 klenteng. Kemudian berkembang pada tahun 1955 dan dibangun lagi beberapa klenteng yang lain termasuk Klenteng Kong Zi Miao yang dibangun pada tahun 2018 yang diperluas walaupun sudah ditempati sejak tahun 1984.

Kawasan Kampung Cina Manado kini tidak lagi bermukim orang Tionghoa karena sudah berlangsung akulturasi. Di pecinan ini kini ada orang Arab yang sudah berbaur dengan orang Minahasa sudah campur baur. Bahkan sudah terjadi asimilasi. Terjadi kawin-mawin antar sesama etnis.

Akhirnya Kampung Cina Manado bukan saja menjadi tempat bagi komunitas Tionghoa namun telah menjadi warisan berharga yang melibatkan semua warga kota dalam merayakan keberagaman dan kekayaan budaya yang dimiliki Manado. Hebat kan?(nor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *