INTANANEWS.ID – Peristiwa tragis YBS (10) siswa sekolah dasar yang mengakhiri hidupnya di Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditanggapi pihak Istana.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan keprihatinan mendalam dengan kejadian itu.
“Kejadian tersebut telah menjadi atensi Presiden Prabowo Subianto,” kata Juru Bicara Presiden Prabowo itu menjawab pertanyaan awak wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta pada Rabu (4/2/2026) malam.
Selanjutnya ia menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan jajaran terkait peristiwa itu dan seharusnya kejadian tidak boleh terjadi.
Ia mengemukakan, dirinya telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, kemudian Menteri Sosial Saifullah Yusuf untuk memperhatikan kondisi keluarga korban, yang diketahui berada dalam kategori miskin ekstrem (desil-1).
“Kami juga telah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti,” katanya.
Terkait dengan adanya informasi keluarga korban tidak mendapatkan bantuan sosial (bansos), karena persoalan administrasi, Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah menunggu hasil penyelidikan kepolisian.
Komentar Gubernur NTT
Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena menyebutkan bahwa keluarga dari bocah SD yang bunuh diri di Kabupaten Ngada tidak masuk dalam keluarga yang menerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Ini saya tahu ternyata data kependudukannya tidak ditopang. Dia pindah dari Nagekeo ke Jerebuu ternyata adminduk dia belum diamankan,” katanya di Kupang, NTT pada Rabu (4/2/2026).
Ia meminta agar pemerintah setempat segera membereskan hal tersebut, karena hal ini hanya menyangkut selembar kertas.
“Inikan cuman soal kertas selembar. Segera bereskan, yang begini-begini kan seharusnya tidak terjadi,” tuturnya.
Ia mengatakan, tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, yang menjadi penyebab orang tua korban tidak menerima bantuan.
“Saya berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari. Saya perintahkan semua Kepala Daerah benar-benar mendata keluarga miskin yang layak menerima bantuan social,” ia menambahkan.
Sebelumnya ramai diberitakan YBS (10) siswa Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon cengkeh dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, berinisial MGT (47).
Isi surat yang ditulis tangan YBS dalam bahasa setempat jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berbunyi seperti ini:
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.(nor)












