Air Mata Itu Mengalir dari Desa Nenowea NTT, Siswa SD Gantung Diri Tinggalkan Surat Perpisahan untuk Sang Ibu

Seorang siswa SD di NTT mengakhiri hidup karena putus asa tidak mampu beli pena dan buku. Ia meninggalkan surat perpisahan untuk ibunya.(Dok/Ist)

INTANANEWS.ID – Air mata itu datang dari sebuah desa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tepatnya di Desa Nenowea.

Ya, sebuah desa yang jauh dari hingar-bingar sebuah kota besar.

Nenowea merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini merupakan satu dari 8 desa dan kelurahan yang berada di Kecamatan Jerebuu.

Seorang siswa kelas IV sekolah dasar yakni YBS (10) ditemukan meninggal dunia tergantung pada dahan pohon cengkeh di kebun milik neneknya di Desa Nenowea itu pada Kamis (29/1/2026).

Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000, ibunya MGT (47) menjawab: mereka tak punya uang.

Anak itu lalu memilih bunuh diri dan meninggalkan sepenggal surat perpisahan kepada ibunya yang ditulis tangan layaknya seorang siswa sekolah dasar .

Bunyinya begini jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:

Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi (meninggal)
Jangan menangis ya Mama
Mama saya pergi (meninggal)
Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya
Selamat tinggal Mama

Tragis memang! Siswa sekolah dasar itu merenggang nyawa tergantung pada dahan pohon cengkeh di kebun milik neneknya.

Bagaimana ia bisa melakukan hal seperti itu?

Ternyata begini ceritanya:

Malam sebelum kejadian, korban beristirahat bersama ibunya dan sempat mengeluh sakit kepala.

Ibunya menasihati agar tidak mandi hujan karena dapat memperburuk kondisi. Keesokan paginya, sekitar pukul 07.30 WITA, korban dibangunkan untuk berangkat sekolah tetapi mengaku masih pusing.

Ibunya tetap mendorong agar anaknya pergi ke sekolah karena selama minggu itu korban telah beberapa kali tidak masuk.

Sekitar pukul 08.00 WITA, korban dititipkan kepada tukang ojek untuk diantar ke pondok milik neneknya, Welumina Nenu, karena seragam sekolah berada di pondok tersebut.

Di sana, korban sempat terlihat belajar di bale-bale oleh saksi GK dan RB.

Saat ditanya mengapa tidak pergi ke sekolah, korban menjawab masih sakit kepala.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 11.00 WITA, saksi KD yang hendak mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban menemukan korban tergantung pada salah satu dahan pohon cengkeh.

KD berteriak meminta pertolongan. Warga sekitar segera menghubungi petugas Pospol Jerebuu.

Personel Polres Ngada tiba di lokasi langsung mengamankan tempat kejadian. Melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengidentifikasi jenazah korban sebelum dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk visum et repertum.

Di lokasi, petugas menemukan beberapa barang bukti seperti tali nilon, pakaian milik korban, dan selembar kertas tulisan tangan berisi pesan perpisahan dalam bahasa daerah Ngada.

Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra pada Rabu (4/2/2026) membenarkan bahwa korban meninggalkan selembar kertas tulisan tangan di tempat kejadian perkara (TKP).

“Benar ditemukan selembar kertas tulisan tangan di sekitar lokasi kejadian pada Kamis, 29 Januari 2026 siang,” katanya seperti dilansir tempo.co.

Gambaran Buruknya Dunia Pendidikan

Menanggapi kejadian itu, anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Habib Syarief menyatakan bahwa kasus wafatnya siswa SD di Nusa Tenggara Timur merupakan  gambaran bagaimana buruknya pemenuhan hak dasar anak di dunia pendidikan.

“Peristiwa tersebut merupakan potret buram dunia pendidikan nasional yang menunjukkan masih adanya celah besar dalam pemenuhan hak dasar belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu,” katanya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta pada Rabu (4/2/2026).

Selanjutnya ia mengatakan, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan untuk sektor pendidikan dan bantuan sosial sangat besar.

Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan dasar seorang siswa untuk bersekolah harusnya dapat dipenuhi oleh pemerintah, dan kasus tersebut tidak seharusnya terjadi.

“Karena sepengetahuan kami anggaran pendidikan dari APBN itu besar, harusnya kebutuhan dasar pendidikan seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi,” tuturnya.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa ini pun mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menelusuri ada atau tidaknya dugaan kelalaian dalam penyaluran bantuan pendidikan.

“Pengusutan ini penting agar negara tidak abai. Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” tuturnya.

Syarief menambahkan, pemerintah juga harus mendata ulang kondisi perekonomian siswa di NTT dan wilayah lainnya, dan mendorong penguatan program bantuan perlengkapan sekolah gratis.

Lepas dari itu, YBS (10) siswa kelas IV sekolah dasar di Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah pergi untuk selamanya. Dan air mata telah mengalir dari desa terpencil itu. Tragis memang!(nor)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *