INTANANEWS.ID – Pemilihan Umum (Pemilu) masih tiga tahun lagi. Namun, peta politik dalam negeri kian memanas.
Penyebabnya yakni banyaknya kader bisa disebut sebagai pentolan Partai NasDem memilih ‘angkat kaki’ alias hengkang ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Dimulai dari Ahmad Ali yang Mantan Wakil Ketua Umum Partai NasDem dan Bestari Barus mantan Ketua Fraksi Partai NasDem di DPRD Jakarta dan terbaru Rusdi Masse Mappasessu Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Selatan disebut-sebut juga bakal bergabung ke partai pimpinan Kaesang Pangarep tersebut.
Belakangan Bestari Barus memberi bocoran pedas. Katanya: masih banyak nama-nama besar lain dari Partai NasDem yang siap menyusul.
Ada yang menyebut alasan kader Partai NasDem hengkang ke PSI lantaran tidak nyaman ditambah tak mendapat tempat di partai besutan Surya Paloh tersebut.
Namun, Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Saan Mustopa membantah kepindahan para senior ini karena tidak mendapat tempat di partai.
“Kita hormati pilihan politik masing-masing. Partai NasDem sudah memberikan rasa nyaman tetapi kalau punya pilihan lain, tentu kita nggak bisa menahan,” katanya di Jakarta pada Senin (26/1/2026).
Pertanyaannya bila Partai NasDem telah memberi rasa nyaman tetapi mengapa politisi sekelas Ahmad Ali hingga Rusdi Masse kabarnya rela meninggalkan Partai NasDem?
Ahmad Ali Effect
Menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno kepada awak media di Jakarta pada Rabu (28/1/2026), hengkangnya sejumlah kader Partai NasDem ke PSI lantaran dipengaruhi Ahmad Ali (Mad Ali).
“Ahmad Ali Effect. Beberapa orang NasDem yang log in ke PSI dikenal satu mazhab dengan Mad Ali. Itu sudah jadi rahasia umum. Jadi wajar saat Ahmad Ali out dari NasDem, figur lain yang satu garis dengan Ahmad Ali juga hijrah,” katanya.
Ia selanjutnya mengatakan, sekarang ini tinggal tunggu saja apakah akan ada bedol desa lanjutan. Ini masuk akal karena dalam politik pindah atau tetap di partai lama kalkulasinya berdasarkan untung rugi secara politik.
Melihat kondisi demikian maka tidak ada pilihan lain agar Partai NasDem harus segera bertindak agar jagoan-jagoannya tidak cabut lagi.
Adi Prayitno berpendapat bahwa fenomena migrasi seperti yang terjadi pada kader Partai NasDem karena ada sesuatu yang buntu dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi Partai NasDem.
Pendapat senada dilontarkan founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi.
Ia menyebutkan bahwa Ahmad Ali mempunyai jaringan politik yang sangat kuat di Sulawesi.
“Kedekatannya dengan Rusdi Masse Mappasessu juga bukan rahasia umum dan sudah lama dikenal dalam dinamika internal NasDem di kawasan tersebut. Sangat mungkin bahwa keputusan Rusdi Masse Mappasessu (jika benar bergabung ke PSI) tidak bisa dilepaskan dari bergabungnya Ahmad Ali terlebih dahulu,” tuturnya.
Artinya, jika benar Rusdi Masse Mappasessu pindah haluan ke PSI maka NasDem menghadapi tantangan yang tak ringan. Karena Ahmad Ali dan Rusdi Masse Mappasessu merupakan figur kunci di balik keberhasilan elektoral NasDem di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Bisa dibilang keduanya adalah mesin politik tangguh Partai NasDem di daerah tersebut.
Akankah berlanjut ‘hijrah’ kader terbaik Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ya kita tunggu saja!(nor)












