INTANANEWS – Rektor IPDN, Dr. Halilul Khairi, tampak sumringah pagi itu. Di hadapannya berdiri sosok yang sejatinya bukan lulusan Jatinangor.
Namun, hari itu, garis nasib membuatnya resmi menjadi bagian dari keluarga besar “Lembah Manglayang”.
Sosok itu adalah Robby Dondokambey. Bupati Minahasa.
Kamis (5/3/2026), cuaca Jatinangor sedang bersahabat.
Di Lapangan Parade, ribuan praja berdiri tegak dalam barisan yang simetris, pemandangan khas sekolah kedinasan yang disiplinnya sudah mendarah daging.

Di tengah suasana yang semi-militeristik itulah, Robby menerima anugerah Kartika Pamong Praja Muda sekaligus gelar Alumni Kehormatan.
Mengapa harus Robby?
Rektor Halilul punya alasan yang fundamental. Di mata IPDN, Robby bukan sekadar “atasan” bagi para alumni yang bertugas di Minahasa.

Ia dipandang sebagai figur ayah yang memberdayakan. Ia tidak hanya memberi instruksi, tapi juga memberikan ruang bagi para purna praja untuk menduduki pos-pos strategis.
Mereka dijadikan mesin penggerak birokrasi, bukan sekadar pelengkap administrasi.
Bagi Robby sendiri, penghargaan ini bukan soal medali yang berkilauan di dada atau piagam yang terbingkai rapi.
”Ini adalah amanah moral,” ujarnya tenang, namun sarat makna.
Ia menyadari betul konsekuensi gelar “Alumni Kehormatan”.

Ada beban tanggung jawab untuk terus memegang teguh nilai kepamongprajaan, disiplin, loyalitas, dan keberpihakan total pada rakyat.
Di jajarannya, Robby tidak melihat alumni IPDN sebagai “anak emas”.
Ia justru menempatkan mereka sebagai problem solver dan inovator.
Mereka yang telah dididik keras secara fisik dan mental di Jatinangor, diharapkan bisa langsung “lari kencang” saat ditugaskan melayani masyarakat Minahasa.
Momen penganugerahan ini juga menjadi saksi kuatnya sinergi di internal Minahasa.
Hadir mendampingi, Wakil Bupati Vanda Sarundajang, Ketua TP-PKK Martina Dondokambey-Lengkong, hingga pimpinan DPRD.

Kehadiran mereka seolah menegaskan bahwa dukungan terhadap kualitas birokrasi adalah kerja kolektif.
Robby punya mimpi besar. Ia ingin kemesraan institusional ini bukan sekadar seremoni.
Ia berharap semakin banyak putra-putri terbaik Minahasa yang menimba ilmu di IPDN, lalu pulang membawa standar birokrasi modern untuk membangun kampung halaman.
Upacara memang telah usai. Namun, bagi Robby, pengabdian yang sesungguhnya justru baru dimulai saat ia melangkahkan kaki keluar dari gerbang kampus dan kembali ke Minahasa.
Membawa semangat Jatinangor ke dalam setiap kebijakan di kantor bupati.
Memang, untuk membangun daerah yang kuat, seorang pemimpin terkadang harus kembali meresapi jiwa pamong. Dan Robby Dondokambey sedang menempuh jalan itu. (nes)












