INTANANEWS.ID – Kabar duka yang menyapu daratan Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) sampai ke telinga warga Desa Panasen.
Banjir bandang yang menerjang kepulauan itu tak hanya menyisakan material lumpur, tetapi juga memutus harapan banyak keluarga yang kini tengah berjuang di pengungsian.
Menyadari dingin dan gelapnya malam yang harus dilewati para korban di Sitaro, warga Desa Panasen, Kecamatan Kakas Barat, atas instruksi Pemerintah Kabupaten Minahasa, bergerak.

Pada Minggu (11/1/2026) sore, sebuah posko darurat berdiri di tepi jalan desa bukan sekadar sebagai tempat pengumpulan barang, melainkan sebagai jembatan penyambung hidup bagi mereka yang berada di seberang lautan.
Duka Sitaro adalah Duka Minahasa
Setiap helai pakaian layak pakai dan setiap bungkus mi instan yang dikumpulkan warga adalah jawaban atas jerit kesulitan di Sitaro.

Persatuan Persaudaraan Wazhenk bersama masyarakat setempat memahami benar bahwa saat ini, di Kepulauan Sitaro, kebutuhan mendasar seperti sandang dan pangan menjadi sesuatu yang sangat berharga.
“Saudara-saudara kita di sana sedang kesulitan. Mereka kehilangan harta benda, bahkan mungkin tempat berteduh. Apa yang kami lakukan di sini adalah bagian dari rasa sakit yang sama,” ujar Sekretaris Desa Panasen, Jems Kaeng, di sela-sela orasinya mengetuk hati para pengguna jalan.
Langkah kaki warga Panasen yang datang satu per satu membawa bantuan menunjukkan bahwa semangat Mapalus tak mengenal batas geografis. Meski terpisah laut yang luas, duka Sitaro terasa sangat dekat di hati masyarakat Minahasa.

Aksi solidaritas ini menjadi manifestasi nyata dari filosofi pahlawan nasional Dr. Sam Ratulangi, Si Tou Timou Tumou Tou.
Di tengah situasi darurat yang dialami warga Sitaro, prinsip “manusia hidup untuk menghidupkan orang lain” menjadi nafas penggerak di Posko Panasen.

Para pengguna jalan yang melintas pun tak tinggal diam. Dari kaca jendela kendaraan yang terbuka, terselip donasi dan senyum tulus. Ada kesadaran kolektif bahwa bantuan ini adalah upaya untuk kembali “memanusiakan” mereka yang saat ini terpuruk akibat hantaman alam di kepulauan tersebut.
Hukum Tua Desa Panasen, Leo Steven Tikoh, menegaskan bahwa kecepatan penyaluran menjadi prioritas utama. Ia menyadari bahwa di Sitaro, waktu sangatlah krusial bagi para korban yang tengah menanti bantuan.

“Terima kasih atas segala bantuan yang diberikan. Fokus kami adalah memastikan semua yang terkumpul di sini segera sampai ke Sitaro. Kami ingin bantuan ini secepatnya dirasakan oleh mereka yang sedang berjuang memulihkan hidup pascabencana,” tegas Leo.
Ia menambahkan bahwa bantuan tersebut akan dikumpulkan di Kantor Kecamatan Kakas Barat, lalu diteruskan ke Kabupaten Minahasa sebelum akhirnya didistribusikan ke Sitaro.
Sore itu, di bawah langit Kakas Barat, bantuan yang terkumpul bukan sekadar benda mati. Ia adalah pesan kuat bagi para korban di Sitaro bahwa mereka tidak sendirian. Di daratan Minahasa, ada hati dan tangan yang terulur untuk memastikan api kehidupan di Kepulauan Sitaro tidak padam. (nes)












