WPITL Pilih Jalan Mandiri, Satu Komando dalam Menjaga Marwah Tanah Minahasa

Ketua Umum DPB LSM Waraney Puser In'Tana Toar Lumimuut (WPITL) Sulawesi Utara, John F.S. Pandeirot. (Foto:Dok/istimewa)

INTANANEWS.ID – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Waraney Puser In’Tana Toar Lumimuut (WPITL) secara resmi mempertegas posisinya sebagai organisasi independen.

Langkah ini diambil untuk memastikan garis komando tetap tunggal sekaligus menghindari kerancuan informasi di lapangan.

​Ketua Umum Dewan Pengurus Besar (DPB) WPITL, John F. S. Pandeirot, menegaskan bahwa secara struktural dan konstitusional, WPITL tidak berafiliasi maupun berada di bawah koordinasi Dewan Adat Minahasa atau lembaga adat mana pun.

​”Berdasarkan asas kedaulatan organisasi, WPITL adalah lembaga mandiri. Kami tidak bergabung dalam koordinasi lembaga adat lain guna menjaga integritas dan langkah perjuangan dalam mengawal aspirasi masyarakat di Sulawesi Utara,” ujar John dalam pernyataan resminya di Manado, Kamis (8/1/2026).

​Meskipun tetap menghormati keberadaan organisasi adat lain, John menekankan bahwa WPITL lahir dari semangat orisinalitas yang memiliki garis perjuangan terukur.

Ia mengingatkan bahwa hubungan dengan instansi pemerintah, TNI/Polri, maupun ormas lainnya harus terjalin dalam prinsip kemitraan yang sejajar.

​”Kami tetap berkomitmen untuk bersinergi dengan pihak mana pun, selama berada dalam koridor kemitraan, bukan hubungan subordinasi,” tegasnya.

​Melalui penegasan “Satu Komando, Satu Tujuan,” WPITL berharap para pemangku kepentingan memahami kedudukan hukum organisasi ini.

Hal ini sekaligus menjadi panduan bagi seluruh anggota di tingkat akar rumput agar tetap fokus pada misi pengawalan adat tanpa intervensi dari pihak luar.

​John menutup pernyataannya dengan sebuah ikrar yang kuat bagi seluruh jajaran pengurus dan anggota:

​”Pernyataan ini adalah ikrar untuk menjaga kemurnian garis perjuangan. Kami berdiri di atas kaki sendiri bukan untuk menjauh, melainkan untuk memastikan setiap derap langkah murni demi kepentingan masyarakat adat, tanpa intervensi dan tanpa keraguan.”

​”Kepada seluruh anggota, tetaplah dalam satu barisan. Biarlah sejarah mencatat bahwa WPITL adalah mitra setara bagi siapa pun yang membangun tanah Minahasa, namun tetap menjadi tuan di rumahnya sendiri,” pungkasnya. ​I Yayat U Santi! (nes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *